Indonesian Health Science Journal https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj <p>Indonesian Health Science Journal (IHSJ) is published by Universitas Nazhatut Thullab Al-Muafa Sampang which is published twice a year in March and October. This journal aims to provide a forum for researchers and practitioners to share knowledge from research in the field of health science. This journal accepts original research, case studies, case report and literature reviews.</p> Universitas Nazhatut Thullab Al- Muafa Sampang en-US Indonesian Health Science Journal 2775-4553 Effects of First Aid Training for Kindergarten Teachers: A Scoping Review https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/164 <p><strong>Latar Belakang: </strong> Cedera dan keadaan darurat medis sering terjadi di pendidikan anak usia dini karena kerentanan perkembangan anak. Guru taman kanak-kanak berperan sebagai penolong pertama, sehingga pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama sangat penting untuk memberikan respons cepat, mencegah komplikasi, mengurangi keparahan cedera, dan menyelamatkan nyawa. <strong>Tujuan:</strong> Untuk mengidentifikasi dan merangkum literatur yang tersedia tentang efek program pelatihan pertolongan pertama bagi guru taman kanak-kanak di lingkungan pendidikan anak usia dini. <strong>Metode:</strong> Basis data elektronik seperti PubMed, ScienceDirect, dan Sage Journals digunakan untuk mencari studi antara tahun 2020 dan 2025 yang menyebutkan pelatihan pertolongan pertama di kalangan guru prasekolah. Studi ini menggunakan Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses extension for Scoping Reviews (PRISMA-ScR). <strong>Hasil:</strong> Tinjauan cakupan mengidentifikasi lima artikel penelitian yang relevan. Intervensi berupa pelatihan pendidikan seperti pelatihan berbasis simulasi dan praktik langsung, termasuk bermain peran dan praktik menggunakan manekin, secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pertolongan pertama guru prasekolah. <strong>Kesimpulan:</strong> Pelatihan pertolongan pertama secara signifikan meningkatkan pengetahuan, kepercayaan diri, dan kesiapan yang dirasakan oleh guru taman kanak-kanak, terutama ketika menggabungkan metode simulasi dan praktik langsung</p> Berlian Kusuma Dewi Suci Nurjanah Priyanto Gilar Wisnu Hardi Sari Artauli Lumban Toruan Winani Bachtiar Effendi Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-03-31 2026-03-31 6 1 1 7 10.52298/ihsj.v6i1.164 Persepsi Orang Tua tentang Vaksinasi Campak berdasarkan Model Keyakinan Kesehatan di Pedesaan Indonesia: Studi Cross-Sectional https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/173 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Campak masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, khususnya di wilayah pedesaan dengan cakupan imunisasi yang belum optimal. Persepsi orang tua berperan penting dalam pengambilan keputusan vaksinasi anak, dan dapat dipahami melalui pendekatan <em>Health Belief Model</em> (HBM). <strong>Tujuan:</strong> Menganalisis persepsi orang tua tentang vaksinasi campak berdasarkan Model Keyakinan Kesehatan (<em>Health Belief Model</em>) di pedesaan Indonesia dengan pendekatan cross-sectional. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain <em>cross-sectional</em> yang dilakukan di wilayah pedesaan Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dengan melibatkan 55 ibu yang memiliki anak usia 0–5 tahun dan belum melakukan imunisasi campak. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis HBM yang mencakup persepsi kerentanan, manfaat, dan hambatan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji Kruskal–Wallis dengan tingkat signifikansi 0,05. <strong>Hasil:</strong> Hasil analisis menunjukkan bahwa usia responden berhubungan signifikan dengan persepsi hambatan vaksin campak (p = 0,04), sementara tingkat pendidikan tidak berhubungan signifikan dengan seluruh konstruk persepsi. Pekerjaan berhubungan signifikan dengan persepsi manfaat vaksin campak (p = 0,05), dengan skor manfaat tertinggi ditemukan pada responden yang bekerja sebagai petani. <strong>Kesimpulan:</strong> Persepsi orang tua terhadap vaksin campak dipengaruhi oleh faktor usia dan pekerjaan dalam kerangka <em>Health Belief Model</em>. Persepsi hambatan dan manfaat merupakan konstruk utama yang berperan dalam penerimaan vaksin campak. Oleh karena itu, intervensi promosi kesehatan di wilayah pedesaan perlu difokuskan pada pengurangan hambatan yang dirasakan serta penguatan persepsi manfaat vaksin melalui edukasi yang kontekstual dan berbasis komunitas</p> Arif Rahman Hakim Prastomo Suhendro Anggeria Oktavisa Denta Mohamad Nur Kuzzairi Bahilatul Hananiyah Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-03-30 2026-03-30 6 1 47 54 10.52298/ihsj.v6i1.173 Junk Food Consumption, Hypertension, and Heart Failure Risk: A Cross-Sectional Study in Tuban https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/170 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Perubahan gaya hidup masyarakat modern ditandai dengan meningkatnya konsumsi <em>junk food</em> yang mengandung tinggi garam, lemak jenuh, dan kalori. Pola makan tersebut berkontribusi terhadap meningkatnya kejadian hipertensi, yang apabila tidak terkontrol dapat berkembang menjadi gagal jantung. Kabupaten Tuban menunjukkan prevalensi hipertensi yang relatif tinggi, sehingga diperlukan kajian ilmiah mengenai faktor risiko yang dapat dimodifikasi, khususnya pola konsumsi makanan. <strong>Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan konsumsi <em>junk food</em> dengan kejadian hipertensi serta implikasinya terhadap risiko gagal jantung pada masyarakat di Kabupaten Tuban. <strong>Metode: </strong>Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan <em>cross-sectional</em>. Sampel terdiri dari 200 responden dewasa yang dipilih sesuai kriteria inklusi yaitu: (1) masyarakat yang berdomisili di Kabupaten Tuban, (2) berusia ≥18 tahun, (3) bersedia menjadi responden dan menandatangani informed consent, serta (4) mampu berkomunikasi dan mengisi kuesioner dengan baik. Data dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur untuk menilai frekuensi konsumsi <em>junk food</em> dan pengukuran tekanan darah menggunakan alat <em>sphygmomanometer </em>dan <em>stetoskop</em>. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat dengan uji <em>Chi-Square</em>, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat signifikansi p &lt; 0,05. <strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan bahwa 58,0% responden sering mengonsumsi <em>junk food</em> dan 62,0% mengalami hipertensi. Terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi <em>junk food</em> dan kejadian hipertensi (p = 0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa konsumsi junk food yang tinggi meningkatkan risiko hipertensi sebesar 2,63 kali (OR = 2,63; 95% CI: 1,48–4,68). Hipertensi juga terbukti sebagai faktor risiko signifikan terhadap terjadinya gagal jantung.<strong> Kesimpulan: </strong>Kesimpulannya, konsumsi <em>junk food</em> berhubungan signifikan dengan kejadian hipertensi dan berkontribusi terhadap peningkatan risiko gagal jantung. Upaya pengendalian pola makan dan penerapan gaya hidup sehat perlu diprioritaskan sebagai strategi pencegahan penyakit kardiovaskular di Kabupaten Tuban.</p> Ahmad Fauziansyah zian Mohammad Fahrul Arifin Arifin Dwi Intan Pakuwita AR Intan Risma Mega Mustika Dwi Milenia Pramesti Dwi Cahyani Pramesti Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-03-30 2026-03-30 6 1 29 36 10.52298/ihsj.v6i1.170 Multimedia-Based Education to Improve Breast Self-Examination Knowledge among Women of Reproductive Age https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/186 <p><strong>Latar Belakang:</strong> kanker payudara merupakan kanker yang paling banyak terdeteksi pada wanita usia produktif dan menduduki peringkat kedua penyebab kematian akibat kanker pada wanita. <strong>Tujuan:</strong> menganalisis Pengaruh Edukasi Pemeriksaan Payudara Sendiri Melalui Multimedia Terhadap Pengetahuan Sadari Pada Ibu Usia Produktif. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasi-experimental design) dengan model pretest-posttest control group. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 66 ibu usia produktif, Besar sampel 32 ibu, dibagi 2 kelompok perlakuan dan kontrol dengan teknik <em>simple</em> <em>random sampling.</em> Analisis menggunakan Uji t 2 sampel bebas α = 0,05. <strong>Hasil:</strong> Hasil uji paired t test nilai P = 0.000 berarti ada perbedaan pengetahuan pada kelompok intervensi sebelum dan setelah dilakukan edukasi SADARI, pada kelompok kontrol nilai P=0,103 yang artinya tidak ada perbedaan. Nilai selisih pengetahuan kelompok intervensi yaitu <em>∆ </em>± (SD) = 2,5 ± (1,2)) dan kelompok kontrol yaitu <em>∆</em>±(SD) = 0,8 ± (1,9). Hasil uji t 2 sampel bebas<em>, </em>P<em>= </em>0.000, artinya ada perbedaan yang signifikan nilai selisih pengetahuan pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol. <strong>Kesimpulan</strong>: Pemberian Edukasi SADARI Melalui Multimedia dapat meningkatkan pengetahuan SADARI.</p> Norna Amalia Sholeha Herin Mawarti Masruroh Nasrudin Suyati Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-03-31 2026-03-31 6 1 76 85 10.52298/ihsj.v6i1.186 Terapi Relaksasi Benson untuk Penurunan Kecemasan pada Ibu Postpartum: Studi Kasus https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/166 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Ibu postpartum sering mengalami kecemasan yang berdampak pada kesehatan fisik dan psikologis, seperti kurangnya keinginan untuk menyusui, penurunan bonding dengan bayi, serta meningkatnya risiko mastitis. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi baby blues hingga depresi postpartum. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan Terapi Relaksasi Benson dalam menurunkan tingkat kecemasan pada ibu postpartum. <strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif analitik pada tiga ibu postpartum dengan masalah kecemasan yang dirawat di Ruang Delima Rumah Sehat untuk Jakarta RSUD Pasar Rebo. Tingkat kecemasan diukur menggunakan instrumen <em>Depression Anxiety Stress Scale </em>(DASS-21). Intervensi Terapi Relaksasi Benson diberikan selama 15–20 menit per hari selama tiga hari berturut-turut. <strong>Hasil:</strong> Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat kecemasan yang signifikan setelah tiga hari intervensi. Skor kecemasan Ny. E menurun dari 12 menjadi 6, Ny. C dari 11 menjadi 5, dan Ny. M dari 10 menjadi 4. Terapi Relaksasi Benson menyebabkan vasodilatasi yang berdampak pada regulasi aliran darah dan tekanan darah. Teknik relaksasi ini juga memberikan efek kenyamanan dan ketenangan, sehingga membantu ibu mencapai keseimbangan pikiran serta meningkatkan kontrol emosional. <strong>Kesimpulan:</strong> Terapi relaksasi Benson dapat menurunkan tingkat kecemasan pada ibu postpartum. Pemberian terapi ini mampu membantu ibu mencapai kondisi rileks dan memberikan kenyamanan. Oleh karena itu, terapi ini dapat direkomendasikan sebagai intervensi nonfarmakologis untuk mengatasi kecemasan pada ibu postpartum.</p> Agustini Liviana Dwi Rahmawati Meidiana Putri Utami Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-03-30 2026-03-30 6 1 8 16 10.52298/ihsj.v6i1.166 Dampak Sleep Call Sebagai Social Support Pada Generasi Zoomer Dengan Kecendrungan Insomnia https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/174 <p><strong>Latar Belakang: </strong> Intensitas penggunaan screen time yang tinggi pada generasi <em>zoomer</em> seperti sleep call dapat berdampak pada kestabilan emosi individu serta durasi jam tidur <strong> Tujuan</strong>: sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keterkaitan kegiatan sleep call terhadap kecendrungan insomnia yang dialami oleh remaja. <strong> Metode</strong>: Metode penelitian yang digunakan ialah pendekatan kuantitatif dengan design <em>cross-sectional</em>. Responden dipilih menggunakan metode <em>random sampling</em> dalam rentang waktu Desember 2024 hingga Maret 2025. Analisis data dilakukan menggunakan analisis univariat dengan uji korelasi Spearman. <strong>Hasil</strong>: Hasil penelitian menunjukkan Nilai koefisien korelasi Spearman sebesar 0,462 menunjukkan bahwa hubungan antara pola <em>sleep call</em> dan kecenderungan insomnia berada pada kategori hubungan sedang dan bersifat positif. <strong>Kesimpulan</strong>: Kebiasaan <em>sleep call</em> dengan kecendrungan insomnia pada generasi <em>zoomer </em>berpengaruh terhadap tumbuh kembang individu dalam beberapa aspek sehingga dianggap perlu untuk dilakukan pencegahan</p> Elok Alfiah Mawardi Atika Jatimi Mery Eka Yaya Fujianti Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-03-31 2026-03-31 6 1 55 61 10.52298/ihsj.v6i1.174 Penerimaan Diri Penderita Kusta Dengan Stigma: Studi Fenomenologi https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/171 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Gangguan&nbsp; psikologis&nbsp; pada&nbsp; penderita kusta&nbsp; semakin&nbsp; meningkat&nbsp; akibat&nbsp; meningkatnya insidensi.&nbsp; Individu&nbsp; &nbsp;&nbsp;mengalami&nbsp; gangguan&nbsp; internal,&nbsp; seperti&nbsp; rasa&nbsp; tidak&nbsp; aman, malu,&nbsp; dan&nbsp; takut&nbsp; dihindari. Sedangkan yang&nbsp; berasal&nbsp; dari&nbsp; faktor eksternal&nbsp; seperti&nbsp; stigmatisasi,&nbsp; isolasi&nbsp; sosial,&nbsp; dan&nbsp; diskriminasi&nbsp; komunitas. Permasalahan tersebut terjadi berlarut larut sehingga berdampak pada masalah ekonomi penderita kusta yang memilih untuk tidak berinteraksi dengan masyarakat bahkan tidak bekerja sebab penderita kusta takut dikucilkan oleh masyarakat. <strong>Tujuan: </strong>untuk mengekplorasi penerimaan diri penderita penyakit kusta dalam kehidupan sehari-hari. <strong>Metode: </strong>Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif yang berfokus pada pendekatan fenomenologis. Partisipan yang diambil pada penelitian ini berjumlah 11 orang yang memiliki kriteria merupakan penderita penyakit kusta di wilayah kerja Puskesmas Talango. Langkah analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data Colaizzi. <strong>Hasil : </strong>Penelitian ini menghasilkan 3 tema, yaitu Perubahan saat sakit dengan subtema perubahan interaksi social dan perubahan kondisis ekonomi, penerimaan diri penderita kusta dengan subtema bentuk &nbsp;dan waktu serta hambatan , dan optimisme dengan subtema&nbsp; keinginan penderita kusta. <strong>Kesimpulan: </strong>Penyakit kusta tidak hanya berdampak terhadap fisik akan tetapi juga berdampak terhadap psikososial &nbsp;dan status ekonomi, stigma merupakan salah satu hal yang mempengaruhi masalah tersebut dikarenakan masih ada stigma dan penolakan dari masyarakat yang mempengaruhi penerimaan diri pada masyarakat. Hal itu merupakan kemampuan individu dalam mengolah koping menjadi lebih baik yang tidak terlepas dari dukungan keluarga yang optimal.</p> Mukhlish Hidayat Arif Rahman Hakim Edy Suryadi Amin Nindawi Sofyan Novela Eka Candra Dewi Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-03-30 2026-03-30 6 1 37 46 10.52298/ihsj.v6i1.171 Pola Nafas Pada Pasien PPOK dengan Terapi Inhalasi Uap Eucalyptus: A Case Report https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/194 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Salah satu cara untuk mengurangi efek negatif PPOK adalah dengan menggunakan intervensi terapeutik. Tindakan mandiri yang dapat dilakukan perawat untuk mengatasi pembersihan jalan napas yang tidak efektif meliputi pemberian bronkodilator dan mukolitik melalui prosedur yang sederhana dan mudah. Inhalasi sederhana dapat dilakukan dengan menggunakan bahan-bahan alami, seperti dengan menghirup minyak eucalyptus. <strong>Tujuan</strong>: Tujuan penelitian ini yaitu mengobservasi pemberian terapi inhalasi uap <em>eupcalyptus</em> pada pola nafas pasien Penyakit Paru Obstrictive Kronik (PPOK). <strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan rancangan studi kasus. Subjek pada studi kasus ini adalah dua pasien dengan diagnosa keperawatan pola nafas tidak efektif. Kemudian diberikan intervensi terapi uap eucalyptus selama 3 hari berturut-turut dan dilakukan evaluasi. <strong>Hasil: </strong>Setelah diberikan intervensi terapi uap eucalyptus selama 3 hari didapatkan evaluasi sesak berkurang dan masalah teratasi berdasarkan tanda gejala mayor menurut SDKI. <strong>Kesimpulan: </strong>Studi kasus ini menyimpulkan bahwa penerapan asuhan keperawatan melalui terapi inhalasi uap eucalyptus terbukti efektif dalam memperbaiki masalah pola napas tidak efektif pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).</p> Dessy Rindiyanti Harista Mukhlish Hidayat Arfan Febrianto Satria Eureka Nurseskasatmata Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-03-31 2026-03-31 6 1 86 92 10.52298/ihsj.v6i1.194 Efektifitas Range of Motion Terhadap Kekuatan Otot Pasien Stroke: Literature Review https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/167 <p><strong>Latar belakang:</strong> Stroke adalah penyakit yang terjadi akibat kerusakan otak karena penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak yang disebabkan oleh kurangnya suplai darah ke otak. <strong> Tujuan: </strong>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas <em>range of motion</em> terhadap kekuatan otot pada pasien stroke. <strong> Metode: </strong>Penelitian ini merupakan tinjauan pustaka yang dirancang dengan basis data PRISMA menggunakan basis data dari ScienceDirect, PubMed, ProQues dan Google Scholar yang difokuskan pada sepuluh tahun terakhir, yaitu 2017 hingga 2026. Data dipilih dengan mengacu pada aplikasi "Zotero dan Rayyan" secara independen untuk menyaring hasil penyaringan, hasil dipilih dengan mengaktifkan mode buta Rayyan. Kajian literatur merupakan pilihan untuk dapat mengidentifikasi percobaan latihan <em>range of motion</em> terhadap kekuatan otot pada pasien stroke. <strong> Hasil: </strong>Hasil artikel menunjukkan signifikan untuk meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke. <strong> Kesimpulan: </strong>Berdasarkan kajian literatur tersebut, dapat disimpulkan bahwa <em>range of motion</em> memiliki hasil positif untuk meningkatkan kekuatan otot pada pasien stroke.</p> Patima Patima Fitri Arofiati Emdat Suprayitno Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-03-30 2026-03-30 6 1 17 28 10.52298/ihsj.v6i1.167 Interaksi Disfungsi Imun dan Determinan Sosial-Lingkungan dalam Aktivasi dan Persistensi Tuberkulosis Resisten Obat: Scoping Review https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/176 <p><strong>Latar belakang: </strong>Tuberkulosis resisten obat (TB-RO), termasuk MDR-TB dan XDR-TB, merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh interaksi faktor biologis dan sosial. Selain faktor regimen terapi dan karakteristik <em>Mycobacterium tuberculosis</em> (Mtb), disfungsi imun host serta determinan sosial-lingkungan berperan penting dalam aktivasi, persistensi infeksi, dan transmisi strain Mtb resisten.<strong>Tujuan:</strong> Scoping review ini bertujuan memetakan bukti ilmiah mengenai bentuk disfungsi imun dan faktor sosial-lingkungan yang berkontribusi terhadap mekanisme aktivasi dan persistensi TB-RO, serta menjelaskan hubungan interaktif keduanya terhadap risiko penularan. <strong>Metode: </strong>Penelitian ini menggunakan scoping review dengan kerangka Arksey dan O’Malley. Pencarian literatur dilakukan pada proquest, Pubmed dan science direct (2017–2026) menggunakan kata kunci terkait TB resisten, disfungsi imun, dan determinan sosial dengan Boolean operators. Dari 26.273 artikel yang teridentifikasi, seleksi PRISMA melalui deduplikasi, skrining, dan penilaian full-text berdasarkan kriteria inklusi ketat menghasilkan 8 artikel yang relevan dan berkualitas. Studi yang dianalisis meliputi observasional (cross-sectional, kohort, case-control) dan terbatas klinis/eksperimental. Data diekstraksi dan disintesis secara deskriptif tematik serta dipetakan berdasarkan tema utama. <strong>Hasil:</strong> Hasil: Disfungsi imun meliputi penurunan imunitas seluler, peningkatan inflamasi, serta imunosupresi akibat HIV dan komorbid. Faktor sosial mencakup kemiskinan, malnutrisi, kepadatan hunian, stigma, perilaku berisiko, dan keterbatasan akses layanan. Interaksi keduanya meningkatkan kerentanan, keterlambatan diagnosis, rendahnya kepatuhan, dan kegagalan terapi yang memperpanjang penularan. <strong>Kesimpulan:</strong> TB-RO dipengaruhi interaksi erat faktor imunologis dan sosial. Pengendalian memerlukan integrasi intervensi klinis dan sosial untuk menekan aktivasi, persistensi, dan transmisi Mtb resisten.</p> Yayuk Endah Ernani Herin Mawarti Khotimah Achmad Zakaria Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-03-31 2026-03-31 6 1 62 75 10.52298/ihsj.v6i1.176