Indonesian Health Science Journal https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj <p>Indonesian Health Science Journal (IHSJ) is published by Universitas Nazhatut Thullab Al-Muafa Sampang which is published twice a year in March and September. This journal aims to provide a forum for researchers and practitioners to share knowledge from research in the field of health science. This journal accepts original research, case studies, case report and literature reviews.</p> Universitas Nazhatut Thullab Al- Muafa Sampang en-US Indonesian Health Science Journal 2775-4553 Efektivitas Nudging WhatsApp Berbasis Teori Orem terhadap Perawatan Diri pada Pasien Pasca Stroke di Puskesmas Tuban Kota https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/201 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Stroke merupakan salah satu penyebab utama kecacatan yang dapat menurunkan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan diri secara mandiri. Pasien pasca stroke sering mengalami keterbatasan mobilitas, ketergantungan aktivitas sehari-hari, serta rendahnya kepatuhan terhadap terapi dan rehabilitasi. Pemanfaatan media digital seperti WhatsApp dengan pendekatan nudging berbasis teori self-care Orem dapat menjadi strategi untuk meningkatkan kemampuan perawatan diri pasien secara berkelanjutan. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas nudging WhatsApp berbasis teori Orem terhadap perawatan diri pada pasien pasca stroke di Puskesmas Tuban Kota. <strong>Metode</strong>: Penelitian menggunakan desain Quasi eksperimenengan pendekatan one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 30 pasien pasca stroke yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Intervensi dilakukan selama 15 hari melalui pengiriman pesan WhatsApp berupa edukasi, motivasi, pengingat minum obat, latihan mobilisasi, dan dukungan perawatan diri berdasarkan teori Orem. Pengumpulan data menggunakan <em>Stroke Self-Care Index</em> (SSCI) sebelum dan sesudah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji paired t-test dengan tingkat signifikansi p&lt;0,05. <strong>Hasil:</strong> Rata-rata skor perawatan diri pasien sebelum intervensi sebesar 56,3±8,2 dan meningkat menjadi 72,5±7,6 setelah intervensi. Hasil uji paired t-test menunjukkan nilai p=0,000 (p&lt;0,05), yang berarti terdapat pengaruh signifikan nudging WhatsApp berbasis teori Orem terhadap peningkatan kemampuan perawatan diri pasien pasca stroke. <strong>Kesimpulan:</strong> Intervensi nudging melalui WhatsApp efektif meningkatkan motivasi, kepatuhan, dan kemandirian pasien dalam melakukan perawatan diri secara mandiri dan berkelanjutan.</p> Mohammad Fahrul Arifin Ahmad Fauziansyah Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-09-25 2026-09-25 6 2 93 103 10.52298/ihsj.v6i2.201 Pengaruh Pemberian Jus Semangka Terhadap Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi di RW 02 Kelurahan Periuk Jaya Kota Tangerang https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/222 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering ditemukan dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai komplikasi apabila tidak dikendalikan dengan baik. Hasil pengkajian komunitas di RW 02 Kelurahan Periuk Jaya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, menunjukkan bahwa hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan di wilayah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan intervensi nonfarmakologis yang mudah dilakukan dan sesuai diterapkan di masyarakat. Semangka mengandung kalium, likopen, dan L-sitrulin yang berpotensi mendukung pengendalian tekanan darah. <strong>Tujuan</strong>: Mengetahui perubahan tekanan darah setelah pemberian jus semangka pada penderita hipertensi di RW 02 Kelurahan Periuk Jaya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang. <strong>Metode</strong>: Penelitian ini menggunakan pendekatan intervensi keperawatan komunitas dengan pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian jus semangka. Intervensi dilakukan pada 10 responden penderita hipertensi. Data tekanan darah sistolik dan diastolik sebelum dan sesudah intervensi dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. <strong>Hasil</strong>: Rata-rata tekanan darah sistolik sebelum intervensi sebesar 166,00 mmHg dan setelah intervensi sebesar 153,10 mmHg, dengan penurunan rata-rata sebesar 12,90 mmHg. Rata-rata tekanan darah diastolik sebelum intervensi sebesar 98,00 mmHg dan setelah intervensi sebesar 91,00 mmHg, dengan penurunan rata-rata sebesar 7,00 mmHg. Berdasarkan kategori tekanan darah, sebelum intervensi terdapat 3 responden (30%) dengan hipertensi tingkat I dan 7 responden (70%) dengan hipertensi tingkat II. Setelah intervensi, terdapat 9 responden (90%) dengan hipertensi tingkat I dan 1 responden (10%) dengan hipertensi tingkat II. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan tekanan darah sistolik (Z = -2,646; p = 0,008) dan diastolik (Z = -2,449; p = 0,014) sebelum dan sesudah pemberian jus semangka. <strong>Kesimpulan</strong>: Pada 10 responden dalam penelitian ini, terdapat perbedaan tekanan darah sebelum dan sesudah pemberian jus semangka. Hasil penelitian ini terbatas pada responden yang diteliti dan tidak dapat digeneralisasikan pada seluruh penderita hipertensi.</p> Alfika Safitri Ira Afrila Audhina Nikhlah Eviana Indriyani Velia Agustin Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-09-25 2026-09-25 6 2 147 154 10.52298/ihsj.v6i2.222 Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Kepatuhan Minum Obat Penderita Tuberkulosis https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/219 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Kepatuhan minum obat merupakan salah satu faktor penting dalam keberhasilan pengobatan, khususnya pada pasien yang menjalani terapi jangka panjang. Rendahnya kepatuhan minum obat dapat menyebabkan kegagalan terapi, meningkatkan risiko komplikasi penyakit, dan menurunkan kualitas hidup pasien. Salah satu faktor yang dapat memengaruhi kepatuhan minum obat adalah dukungan keluarga. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain penelitian <strong>analitik dengan pendekatan cross-sectional</strong>. Menggunakan Total Sampling dengan jumlah sampel sebanyak <strong>69 responden</strong> yang dipilih sesuai dengan kriteria penelitian. Variabel independen adalah dukungan keluarga, sedangkan variabel dependen adalah kepatuhan minum obat. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner MMAS-8, kemudian dianalisis menggunakan uji <strong>Chi-Square</strong>. <strong>Hasil:</strong> Hasil uji dukungan keluarga sebagian besar buruk 85.5% sedangkan kepatuhan minum obat Sebagian bessar rendah 92,8%, uji Chi-Square diperoleh nilai <strong>p-value = 0,019</strong><strong>, </strong>sehingga p &lt; 0,05 yang menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat. <strong>Kesimpulan:</strong> Semakin baik dukungan keluarga yang diterima pasien, semakin tinggi tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan. Oleh karena itu, keterlibatan keluarga perlu ditingkatkan dalam upaya mendukung keberhasilan terapi dan meningkatkan status kesehatan pasien.</p> Mukhlish Hidayat Robiatul Adawiyah Amilia Risky Gofur Sofyan Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-09-25 2026-09-25 6 2 125 136 10.52298/ihsj.v6i2.219 Penerapan Rebusan Air Kunyit Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pada Lansia Penderita Gastritis: Studi Kasus https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/217 <p><strong>Latar Belakang</strong>: Gastritis adalah termasuk permasalahan kesehatan yang banyak ditemukan di warga, termasuk pada kelompok lansia. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gejala, salah satunya nyeri epigastrium yang dapat memengaruhi aktivitas harian sehari-hari. Salah satu metode nonfarmakologis yang dapat digunakan untuk membantu mengurangi nyeri akibat gastritis adalah pemberian rebusan kunyit. Kunyit mengandung senyawa kurkumin yang memiliki sifat antiinflamasi, sehingga berpotensi membantu mengurangi proses peradangan pada lambung. <strong>Tujuan</strong>: untuk mengetahui penerapan pemberian rebusan kunyit dalam menurunkan tingkat nyeri akibat gastritis pada lansia <strong>Metode:</strong> penelitian menggunakan studi kasus deskriptif dengan penilaian sebelum dan sesudah intervensi, kemudian tingkat nyeri diukur menggunakan NRS sebelum dan setelah pemberian rebusan kunyit. <strong>Hasil</strong>: Hasil menunjukkan bahwa sebelum pemberian rebusan kunyit, empat responden (80%) merasakan nyeri sedang serta satu responden (20%) mengalami nyeri ringan. Setelah intervensi, jumlah responden dengan nyeri sedang menurun menjadi satu (20%), sedangkan jumlah responden dengan nyeri ringan meningkat menjadi empat (80%). Hasil ini menunjukkan perubahan tingkat nyeri setelah pemberian rebusan kunyit. <strong>Kesimpulan</strong>: Pemberian rebusan kunyit dapat membantu mengurangi tingkat nyeri gastritis pada lansia. Terapi rebusan kunyit dapat digunakan sebagai terapi komplementer.</p> Alfika Safitri Diva Rahmah Hidayat Lutfi Aprilia Hapsari Dina Lailatul Istianah Bening Fatimah Azzahra Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-09-25 2026-09-25 6 2 104 112 10.52298/ihsj.v6i2.217 Hubungan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) DPT-1 dengan Tingkat Kecemasan Ibu pada Bayi di Wilayah Pedesaan Kabupaten Pamekasan https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/223 <p><strong>Latar Belakang: </strong>KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) adalah reaksi yang dapat muncul sesudah pemberian imunisasi, termasuk imunisasi DPT 1 pada bayi. penelitian sebelumnya umumnya telah menunjukkan bahwa KIPI ringan setelah imunisasi, seperti demam, rewel, nyeri, dan pembengkakan pada lokasi suntikan, dapat menimbulkan kekhawatiran orang tua. Namun, masih diperlukan bukti empiris mengenai sejauh mana reaksi KIPI setelah pemberian DPT dosis pertama (DPT 1) berkaitan dengan tingkat kecemasan ibu, terutama pada periode awal imunisasi bayi. <strong>Tujuan: </strong>Untuk menganalisis hubungan antara reaksi KIPI DPT 1 dengan tingkat kecemasan ibu pada bayi di Desa Pagendingan Galis Pamekasan. <strong>Metode: </strong>Penelitian ini merupakan tipe penelitian <em>analytic correlational-cross sectional </em>.Sampel dalam penelitian ini adalah ibu yang memiliki bayi dan telah mendapatkan imunisasi DPT 1 sebanyak 30 responden, dengan menggunakan teknik total sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah reaksi KIPI DPT 1, sedangkan variabel dependen yaitu tingkat kecemasan ibu. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner reaksi KIPI dan <em>Self Rating Anxiety Scale </em>(SAS). Data dianalisis dengan uji bivariat menggunakan uji statistika sperman rank.. <strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian menunjukkan karakteristik demografi responden , sebagian besar ibu (76%) berusia &lt;20 tahun.,dan berdasarkan urutan kelahiran menunjukkan hampir seluruh bayi (83,3%) yang diteliti merupakan anak pertama. Berdasarkan reaksi KIPI setelah imunisasi DPT 1,sebagian besar dari bayi (63,4%) mengalami reaksi KIPI sistemik dan sebagian kecil (3,3%) mengalami reaksi berat pasca imunisasi DPT 1. Sedangkan pada tingkat kecemasan menunjukkan setengah dari ibu (50%) mengalami kecemasan berat. hasil uji korelasi ada hubungan signifikan (2-tailed) antara reaksi KIPI dengan tingkat kecemasan sebesar <em> p</em> &lt; 0,000 (α = 0,05), dengan nilai koefisien Korelasi sebesar (r)=0,642. <strong>Kesimpulan: </strong>Terdapat hubungan yang signifikan antara reaksi KIPI DPT 1 pada bayi dengan peningkatan tingkat kecemasan ibu di Desa Pagendingan Galis Pamekasan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan bukti kontekstual mengenai pentingnya pemantauan KIPI sekaligus komunikasi edukatif kepada ibu sebagai bagian dari upaya mempertahankan kepercayaan dan keberlanjutan imunisasi bayi. </p> Nur Khalilah Taufiqur Rahman Nur Iszakiyah Fadilatul Qur’ani Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-09-28 2026-09-28 6 2 155 164 10.52298/ihsj.v6i2.223 Gambaran Pelaksanaan Edukasi Kesehatan tentang Diet Natrium pada Penderita Hipertensi di Desa Bapelle, Kabupaten Sampang https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/220 <p><strong>Latar Belakang: </strong>Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya yang terus meningkat dan berisiko menimbulkan berbagai komplikasi serius. Salah satu faktor yang berperan penting dalam pengendalian hipertensi adalah pengaturan asupan natrium melalui diet rendah garam. Namun, rendahnya pengetahuan dan kepatuhan masyarakat terhadap diet natrium masih menjadi kendala, sehingga diperlukan upaya edukasi kesehatan yang tepat. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan <em>health education </em>terhadap diet natrium pada penderita hipertensi di Desa Bapelle, Kabupaten Sampang. <strong>Metode: </strong>Studi cross-sectional dilakukan dengan melibatkan seluruh pasien hipertensi di Desa Bapelle. Sebanyak 30 partisipan diambil menggunakan teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur untuk menilai pemahaman dan penerapan diet rendah natrium oleh partisipan setelah intervensi pendidikan kesehatan. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif (univariat). <strong>Hasil: </strong>Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pelaksanaan <em>health education </em>terhadap diet natrium pada penderita hipertensi, yang dikategorikan dalam kriteria baik, cukup, dan kurang. Edukasi kesehatan mengenai diet natrium berperan penting dalam meningkatkan pemahaman penderita hipertensi tentang pembatasan konsumsi garam, pemilihan jenis makanan, serta penerapan pola makan sehat dalam kehidupan sehari-hari. <strong>Kesimpulan: </strong>Kesimpulan dari penelitian ini berdasarkan pelaksanaan <em>health education </em>yang dilakukan di Desa Bapelle Kecamatan Robatal Kabupaten Sampang, diketahui bahwa sebagian besar cukup untuk melakukan diet natrium.</p> Agoesta Pralita Sari Abdyas Sholah Rahayu Yuliana Watiningrum Isnaini Novitasari Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-09-25 2026-09-25 6 2 137 146 10.52298/ihsj.v6i2.220 Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Tingkat Stres Warga Binaaan Kasus Narkotika di Lembaga Pemasyarakatan https://ojsjournal.unt.ac.id/index.php/ihsj/article/view/218 <p><strong>Latar Belakang:</strong> Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) merupakan kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan mental, khususnya stres, akibat kehilangan kebebasan, keterpisahan dari keluarga, stigma sosial, serta berbagai tekanan selama menjalani masa pidana. Identifikasi faktor-faktor yang memengaruhi tingkat stres diperlukan sebagai dasar penyusunan program pembinaan dan pelayanan kesehatan mental di lembaga pemasyarakatan. <strong>Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi tingkat stres Warga Binaan Pemasyarakatan di Lapas Narkotika Kelas IIA Pamekasan. <strong>Metode:</strong> Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah Warga Binaan Pemasyarakatan di Lapas Narkotika Kelas IIA Pamekasan, dengan jumlah sampel sebanyak 69 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Tingkat stres diukur menggunakan Perceived Stress Scale (PSS). Analisis data meliputi analisis univariat, analisis bivariat menggunakan uji Mann–Whitney U dan Kruskal–Wallis, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik ordinal dengan tingkat signifikansi 5%. <strong>Hasil:</strong> Sebagian besar responden berada pada kelompok usia dewasa (66,7%), bekerja sebagai wiraswasta sebelum menjalani masa pidana (68,1%), berstatus cerai (43,5%), dan berpendidikan SMA (26,1%). Mayoritas responden mengalami tingkat stres sedang (50,7%), diikuti stres berat (47,8%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa usia (p = 0,936) dan pekerjaan (p = 0,578) tidak berhubungan secara signifikan dengan tingkat stres, sedangkan status pernikahan (p &lt; 0,001) dan tingkat pendidikan (p = 0,001) berhubungan secara signifikan dengan tingkat stres. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa status pernikahan merupakan faktor yang paling berhubungan dengan tingkat stres setelah dikontrol oleh variabel usia, pekerjaan, dan tingkat pendidikan (B = 4,858; p = 0,001). <strong>Kesimpulan:</strong> Status pernikahan merupakan faktor dominan yang memengaruhi tingkat stres Warga Binaan Pemasyarakatan di Lapas Narkotika Kelas IIA Pamekasan. Penguatan dukungan keluarga dan layanan kesehatan mental perlu menjadi bagian penting dalam program pembinaan untuk menurunkan tingkat stres dan meningkatkan kesejahteraan psikologis WBP.</p> Arif Rahman Hakim Prastomo Suhendro Robbiyatin Nur Azizah Copyright (c) 2026 Indonesian Health Science Journal 2026-09-25 2026-09-25 6 2 113 125 10.52298/ihsj.v6i2.218